Pendidikan itu sangat penting dalam kehidupan, kenapa karena sebelum lahir kita sudah menerima pendidikan dari ibu kita sejak dari kandungan. Beberapa ayat Al-Qur'an juga sudah menyampaikan manfaat dari pendidikan itu sendiri, seperti akan diangkat derajad seseorang yang menuntut ilmu dalam suatu majlis.
Zaman sekarang sudah makin maju, dari zaman ke zaman juga namanya berubah, zaman sekarang dinamakan zaman milenial, atau lebih tepatnya dinamakan generasi micin. Kenapa jadi dinamakan generasi micin, karena generasi sekarang susah untuk dinasehati. Proses berpikir mereka lebih instan sekarang kenapa karena lebih banyak menggunakan tekhnologi. Zaman digital juga penyebutannya. Zaman yang bila tanpa hp sedikitpun seperti tidak bisa hidup, kalau diumpamakan, lebih baik tidak makan dari pada tidak ada hp. Ya itulah generasi micin sekarang.
Apalagi belanja sekarang sudah tidak perlu lagi keluar rumah, kenapa? Karena semua dilakukan dengan online, bayangkan malas gerak kan jadinya. Sehingga terciptalah istilah "mager" dalam kamus gaul. Sampai makanpun tinggal mesan di Gojek atau Grab, beberapa menit kemudian akan nyampe luar biasakan.
Zaman penuh semua yang instan sehingga pendidikan sekarang pun bisa dilakukan dengan jarak jauh. Tak perlu lagi tatap muka dengan guru di kelas. Cuma ngerjain tugas kuliah di laptop lalu dikirim lewat email. Jadi deh. Wow, fantastik bukan. Tapi sekali lagi itu sebenarnya ga mengasyikkan.
Apa sebenarnya pendidikan generasi micin?
Sebelum itu kita lihat dulu kurikulum pendidikan yang dipakai oleh sekolah sekarang. Yaitu kurikulum 2013. Kurikulum yang lebih menekankan kepada karakter. Kurikulum yang berfokus pada kompetensi siswa bukan bagamana cara siswa menguasai materi pelajaran tersebut.
Karena zaman sekarang semua sudah berbasis IT, maka pembelajaran disekolah kalau hanya textbook saja itu pasti tidak akan masuk terhadap siswa sekarang. Berbeda dengan zaman dulu yang hanya punya papan tulis dan kapur. Zaman sekarang media pembelajaran menggunakan LCD, jadi materi yang diajarkan tinggal dpresentasikan lewat LCD.
Seperti eksperimen yang saya lakukan akhir-akhir ini, saya melakukan penelitian dengan 2 cara yaitu hanya menggunakan textbook, maksud textbook disini adalah media pembelajaran kita hanya berfokus pada buku saja. Dan satu lagi menggunakan media berbasis IT, dimana semua saya integrasikan dari video, gambar, dan flash pastinya.
Metode pertama, mereka paham pada saat saya sudah selesai menjelaskan namun hanya pada hari itu saja. Namun pada hari berikutnya ulangan hasilnya luar biasa menyakitkan hati karena nilai mereka anjlok. Kenapa? Karena media mereka hanya mendengarkan guru melihat textbook. Dan itu cepat sekali hilang. Belum lagi karena mereka malamnya habis begadang. Kalahlah pelajaran anda yang besok ulangan. Hasilnya nihil.
Metode kedua saya menggunakan IT, dengan menyajikan beberapa video, gambar dan flash. Saya disini tidak ada sama sekali menjelaskan, karena apa? Karena video sudah menjelaskan. Lalu mereka menganalisis sendri lewat video dan gambar yang dsajikan. Saya hanya duduk dan berkeliling sesekali memperhatikan apa yang mereka lihat. Mereka bisa ketawa sendiri melihat video yang disajikan, mata mereka yang dulunya ngantuk menjadi seperti 100 watt saja. Karena betapa menariknya apa yang mereka perhatikan. Dan tibalah saat tugas menanti. Dan taukah anda apa yang terjadi seluruh siswa dalam kelas itu rata-rata mengerjakan tugas dengan fantastis. Saya menyuruh mereka mengerjakan 1 produk. Dan mereka begitu kreatif. Diluar pikiran saya, diluar tebakan apa yang mereka buat. Saya kira apa yang mereka lihat divideo akan di duplikat mereka. Ternyata mereka lebih keren daripada yang divideo. Kerenkan dampak media pembelajaran IT saya ini.
Maka itulah yang disebut dengan pendidikan generasi micin, mereka lebih paham jika kita lihatkan mereka video, kenapa? Karena mereka bisa berjam-jam hanya dengan menggunakan hp mereka melihat youtube, media sosial, dsb.
Dari dampak tersebut sebenarnya alangkah bagusnya kalau guru-guru kita di Indonesia mereka bisa menguasai IT dengan baik. Mereka paham cara penggunaan internet, lalu cara membuka youtube. Namun sekali lagi ada beberapa karakter yang berbeda-beda dalam diri manusia. Ada yang pemalas, ada yang rajin. Ada yang sangat rajin sekali. Tapi, kalaulah ini untuk target Kompetensi Dasar agar tercapai harusnya mereka bisa membuat media pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Tapi sekali lagi itu harus ada semangat dalam diri seseorang. Sayapun demikian, karena kadang bisa semangat kadang bisa juga down terhadap lingkungan saya.
Tapi yakinlan apa yang anda lakukan Allah akan menghitungnya sebagai amal jariyah, ayo guru kita berkreasi. Salam!!!

EmoticonEmoticon