Friday, August 5, 2016

LIKA LIKU GURU ; ME


Hidup itu memang penuh lika-liku...

seperti ceritaku tentang sertifikasi guru,

aku memulai karirku bekerja sebelum lulus kuliah, pas lagi masa-masa skripsi karena terlalu boring dengan tugas skripsiku aku pun bekerja di salah satu sdn rsbi (rintisan sekolah bertaraf internasional) dibanjarmasin sebagai guru bilingual, 

aku bekerja disana cuma satu bulan karena akhirnya aku menyerah dengan keadaan, skripsiku harus selesai bro, kalau tidak ayahku tidak akan membiayai aku lagi kuliah.

Dengan penuh perjuangan, dengan penuh kekeramatan skripsi akhirnya akupun lulus kuliah dengan nilai yang cukup standar. Karena tidak cumlaud, jadi yah biasa-biasa j bagiku.

Tapi aku tetap bersyukur karena akhirnya aku akan mulai bekerja. Saat ini umurku cukup dewasa memikirkan kenapa aku kuliah kemarin tidak mendapat nilai tinggi. Karena aku orangnya tidak PD, tidak ada presentasiku yg membuat dosen jadi terpana, dan karena ada beberapa dosen yang tidak kusuka, alhasil dapat nilai C...ah, alasan aku aja kali yee....intinya mungkin lemah juga kali ya dalam pelajaran itu. 

Tapi sekarang aku melanjutkan kuliah di S2 alhamdulillah semua nilaiku A, walaupun pake min. Hahaha. Nah, setelah aku lulus kuliah S1, akhirnya aku pun melamar ke salah satu smp swasta.

Kenapa ya pas habis lulus aku tidak melamar ke SMA aja atau kesekolah negeri lain, aneh juga ya aku. Jadi cuman satu lamaran itu aja yang kumasukkan. 

Sekitar 2 bulan kumasukkan akhirnya aku diterima, mengajar bahasa inggris cukup mengasikkan apalagi anak-anaknya sangat q sayang walaupun sebenarnya agak bandel tapi harus dimaklumi. 

Akhirnya datanglah guru bahasa inggris lain, beliau adalah suaminya salah satu guru di smp ku juga. Panjang cerita, karena beliau sudah dipanggil untuk sertifikasi, harus 24 jam terpaksalah aku harus mengalah untuk memberikan jam kepada beliau. 

Dan sampai akhirnya aku memutuskan keluar dari sana, karena sebuah proporsional tidak lagi kudapat. Porsiku seorang guru bahasa inggris kurasakan tidak professional lagi karena harus mengajar pelajaran lain yang bukan jurusan ku. Walaupun memang suka. 

Tapi hatiku serasa berkecamuk. Jadi sekarang itu tuh hasil dari sertifikasi, yang merasa masih honor, muda, belum dapat sertifikasi. Harus siap-siap dapat perlakuan kaya aku. Tapi memang malahan kudengar diluarpun mereka berani menambah jam pelajaran mencari-cari kesana-kemari dan rela tidak digaji hanya untuk 24 jam hanya untuk mendapat dana sertifikasi. 

Bayangkan deh begitu dahsyatnya kan. Sampe sekarang alhamdulillah mungkin karena jalanku, nasibku, takdirku atau apalah, aku tidak mendapatkan nuptk. Karena bila dapat itu kita bisa dapat tunjangan, dapat sertifikasi.

Sekarang, Alhmdulillah, aku merasa tidak ingin bersaing dengan mereka, aku tidak ingin meurus itu, karena aku punya target lain kali ya. Jadi, komentarku buat Pa Menteri alangkah baiknya semua guru itu tidak pandang bulu dia ngajar sesuai atau tidak dengan lulusannya tetap mendapatkan sertifikasi. 

Dan alangkah baiknya lagi semua guru itu, dapat tunjangan. Guru itu pekerjaannya kelihatannya sederhana tapi pas dijalani itu sebenarnya berat lo, bayangkan guru bisa mencerdaskan muridnya, guru harus menghadapi berbagai macam kelakuan anak didik. Sekolah tanpa guru itu apa artinya coba?

Presiden itu siapa yang membuatnya bisa bertindak bisa mengambil keputusan, bisa memimpin seperti ini. Itu kan karena ada ilmu. Siapa yang memberikan ilmu. Itu adalah GURU. Sekarang, guru mencubit murid saja dilaporkan ke polisi. Beda dengan zaman dulu, luar biasa pelajaran guru-guru walaupun dengan kekerasan fisik dikit. Tapi ilmunya sampe sekarang takkan luntur. Aku sampai sekarang bila ketemu guru pasti salaman dengan beliau. Sekarang, wow say hello aja kali susah.

Guru duluan kali ya sekarang yang menyapa. Aku ingin sekali meneliti kenapa generasi kami itu tidak ada lagi. Kenapa para anak-anak sekarang makin kurang ajar sama orang yang lebih tua. Ya Allah jagalah generasi-genarasi kami, aamiin. Jadikan Indonesia generasi qur'ani yang Engkau Ridhoi ya Allah.

#050716










EmoticonEmoticon